Potret masyarakat kita, jika bisa dilukiskan, bisa jadi akan berupa wajah yang aneh. Tidak bisa ditebak, mudah berubah arah, atau bisa bertolak belakang dalam waktu yang bersamaan. Menyangkut masalah kepekaan terhadap ketidakadilan, misalnya, masyarakat terbukti cukup peka untuk bereaksi terhadap kasus Prita Mulyasari, dan dukungan yang diperolehnya pun melebihi kebutuhan, terlihat dari pengumpulan koin untuk Prita bisa mencapai Rp 0,5 miliar lebih yang berarti dua kali lipat yang dia butuhkan untuk membayar denda pengadilan.
Kepekaan semacam itu juga terlihat nyata dalam banyak hal-hal besar, seperti ketika kasus kriminalisasi KPK bulan lalu, publik yang mendukung Bibit Samad Riyanto dan Chandra M Hamzah mencapai jutaan orang, sehingga besarnya dukungan itu diakui atau tidak telah mempengaruhi sikap pemerintah termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono akhirnya mengubah sikap, dari membiarkan kasus itu ditangani Kejaksaan, menjadi menyarankan agar kasus itu diselesaikan di luar pengadilan.
Tetapi, sama-sama mengusik rasa kemanusiaan dan keadilan hakiki, rasanya berita yang dirilis oleh Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) kemarin tidak akan terlalu menimbulkan pengaruh. Karena berita itu sebenarnya sudah terlalu sering muncul di media dan tidak pernah bisa menggerakkan aktivis hak-hak asai manusia atau pemerhati masalah sosial untuk bertindak menggugah kesadaran publik.
Berita itu menyangkut statistik, yakni ada 186 bayi dibuang orangtuanya sepanjang tahun 2009 di Indonesia. Dari jumlah itu, 68 persen bayi ditemukan dalam keadaan tewas, atau tewas kemudian di rumah sakit. Tindakan keji itu, semakin terasa keji karena rata-rata bayi dibuang begitu saja seperti sampah di tong sampah, selokan, dibungkus plastik, bahkan masih banyak yang belum dipotong tali plasentanya.
Persoalan sosial yang melibatkan generasi muda di negeri ini, sebenarnya sudah terlalu banyak. Sebut saja soal pendidikan yang sangat tidak stabil. Peraturan, kurikulum dan sistem yang terus menerus berubah, juga biaya sekolah yang semakin mahal merupakan satu contoh persoalan mendasar yang hingga kini tidak kunjung terpecahkan oleh pemerintah. Tengok bagaimana resahnya kalangan pelajar mengenai Ujian Nasional yang bagaikan hantu, tidak jelas ada atau tidak, namun berpotensi menjegal cita-cita dan masa depan mereka.
Persoalan pendidikan ini memiliki sub-sub masalah yang juga semakin membutuhkan penanganan serius. Apakah pernah ada peneliti yang mencermati perilaku tawuran pelajar atau mahasiswa? Apakah aparat hukum melakukan terapi dan penanganan yang tepat untuk permasalahan seperti itu? Rasanya masih belum.
Belum lagi soal lain yang tak kalah pelik. Badan Narkotika Nasional menyebutkan, dari 3,2 juta pengguna narkoba di Indonesia, sebanyak 1,1 juta di antaranya adalah kalangan pelajar dan mahasiswa. Lagi-lagi, angka itu adalah fenomena gunung es, yang tidak bisa menggambarkan secara tepat berapa angka sesungguhnya, tetapi jelas lebih besar.
Dan karena ada fakta permasalahan seks bebas yang cukup besar, tentu sulit bagi kita untuk menutup mata terhadap ancaman lainnya. Setahun lalu, diketahui ada 18.000 penderita penyakit AIDS yang sebagian di antaranya adalah kalangan remaja dan pemuda. Apakah kita akan menutup mata? Memang tidak, tetapi rasanya masih terlalu sedikit yang peduli. Atau mungkin belum sadar bahwa persoalan narkoba, AIDS, seks bebas, bisa menyergap sanak keluarga kita? Itu bukan mustahil.
Peduli pada Prita, pada Bibit dan Chandra, pada kasus Bank Century, tentu mengasah kepekaan kita. Dan rasanya, penting juga untuk memperhatikan dan peduli pada anak-anak negeri ini. Karena mereka milik kita, dan juga karena pemerintah belum mampu untuk itu.
Related posts:
- disiplin pada anak bentuk penerapan disiplin yang terlalu keras pada anak, sebaiknya tidak...
- Rezeki tidak akan pernah tertukar Pernah ngerasa jenuh dengan rutinitas kerjaan yang itu itu saja...
- Pendidikan Anak Usia Dini Saat ini sedang menjamur keberadaan PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini)...
Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Silahkan gunakan form di bawah ini untuk ikut berdiskusi. Semua komentar memerlukan approval admin sebelum ditampilkan.