Skip to content


Kenapa Di Kmp Sawah Pondok Gede Bekasi Warga Betawi Banyak Yg Katholik Ada Yg Tau Sejarahnya Sejak Thn 1896?

Aku pernah lihat di Kampung sawah yang besar Pondok Gede Bekasi yang saat ini sudah ramai dengan pemukiman penduduk perumahan dll tapi ada satu Gereja Katholik yang besar sudah lama berdiri yang mana Jemaahnya 90 Persen warga Betawi dan lucunya kalo kegereja misalkan Misa masih mengenakan pakaian Betawi pake Kopiah udah itu di Lapangan banyak jual macam2 makanan khas Betawi dan sangat ramai nah ada yang tau sejarahnya karena kebanyakan kita tau Orang2 Betawi kental dengan Islam dan Pesantrennya nyatanya ada juga sebagian kecil Penganut katholik dan sangat taat sekian dari saya

No related posts.

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

Posted in Busana / Fashion. Tagged with , , , , , , , , , .

Silahkan gunakan form di bawah ini untuk ikut berdiskusi. Semua komentar memerlukan approval admin sebelum ditampilkan.

  1. Diatri said

    SUARA adzan dhuhur mengalun. Nadanya mendayu-dayu, meluncur dari sebuah masjid di lingkungan Pesantren Fisabilillah. Beberapa menit kemudian, dari gereja Katholik yang hanya berjarak sekitar 100 meter dari masjid, lonceng tua berdentang. Tak jauh dari masjid dan gereja itu, berdiri gagah Gereja Kristen Pasundan.
    Jemaat Protestan, pemilik tempat ibadah ini, bisa beribadah tenang, tanpa takut terusik. Suara adzan tak terasa riuh di dalam gereja. Sebaliknya, dentang lonceng juga tak memekakkan telinga jamaah masjid. Baik adzan maupun lonceng gereja, volumenya memang diatur agar tak saling mengganggu.
    Masjid dan gereja yang penuh toleransi itu terletak di Kampung Sawah, Kecamatan Jatisampurna, Bekasi, sebelah timur Jakarta. Tak ada keberingasan di kampung itu. Tak pernah terjadi perseteruan di antara mereka. Kampung Sawah pun dikenal sebagai area segi tiga emas: Islam, Katolik, dan Protestan.
    Kampung Sawah merupakan gejala unik dalam konteks budaya Betawi. Ia adalah kampung betawi pertama yang agama warganya beraneka. Sejak seabad lampau, warga setempat ada yang beragama Islam, Protestan, maupun Katolik. Gejala ini sedikit “menyimpang” dari kelaziman warga betawi yang identik dengan Islam.
    Penyimpangan itulah yang menarik perhatian Abdul Azis, peneliti pada Badan Penelitian dan Pengembangan Agama, Departemen Agama (Balitbang Depag), untuk mengkaji profil kerukunan beragama di kampung tersebut, pada 1996. Penelitian serupa dilakukan Jurusan Antropologi Universitas Indonesia, dua tahun kemudian.
    Menurut Azis, kerukunan beragama di Indonesia memiliki basis budaya yang lebih kokoh dibanding Eropa. “Sejarah Eropa kental pengalaman konflik antaragama,” katanya. Masyarakat nusantara tak demikian. “Perbedaan agama di sini sering kali melahirkan kreasi lokal dalam mengembangkan kerukunan antar agama,” ujarnya. Master sosiologi dari Universitas Monash Australia ini menunjuk Kampung Sawah sebagai contoh.
    Awalnya, hampir semua warga Kampung Sawah menganut Islam. Protestan baru hadir 1886, ditandai munculnya Jemaat Meester F.L. Anthing di bawah Perhimpunan Pekhabaran Injil Belanda. Pada akhir 1880-an perkembangan Protestan kian pesat, akibat banyaknya jemaat dari Mojowarno, Jawa Timur, dan lereng Gunung Muria, Jawa Tengah, yang hijrah ke Kampung Sawah.
    Pemeluk Protestan yang mulai multi etnis itu, tahun 1895, pecah jadi tiga kelompok. Satu di antaranya memilih Katolik Roma, meski saat itu tak sadar bahwa Katolik bukan bagian Protestan. Perkembangan Katolik di Kampung Sawah itu ditandai dengan pembaptisan 18 putra setempat pada 6 Oktober 1896 oleh Pater Bernardus Scwheitz, dari Katedral Batavia.
    Penganut Kristen di Kampung Sawah kemudian membentuk sistem marga, tradisi yang tak ditemukan di betawi lainnya. Misalnya, marga Baiin, Saiman, Bicin, Napiun, Kadiman, Dani, Rikin, dan Kelip. Jangan kaget bila tiba-tiba ketemu nama Musa Dani, Marthius Napiun, atau Sulaeman Kadiman.
    Nama marga adalah bentukan sistem hukum kolonial. Masa itu berlaku hukum Islam, adat, dan barat. Kolonial Belanda menerapkan sistem hukum yang berbeda pada masing-masing golongan masyarakat. Bagi warga Kristen bumi putera yang hendak menikah, berlaku peraturan khusus mirip hukum sipil Barat. Mereka harus menggunakan nama keluarga ditambah nama baptis.
    Antarwarga asli Kampung Sawah masih terikat hubungan kerabat. Meski agama berbeda-beda. “Ini salah satu modal terjaganya kerukunan beragama di antara kami,” kata M. Encep, sang Kepala Desa. Hubungan kerabat itu tak saja berupa hubungan darah, melainkan juga melalui jalur perkawinan. Banyak terjadi kawin silang antarpemeluk agama berbeda. Ada yang kemudian melebur ke agama pasangannya. Ada juga yang bertahan pada agama masing-masing.
    Pengasuh Pesantren Fisabilillah, KH Rahmadin Afif, 55 tahun, misalnya, punya saudara sepupu yang jadi tokoh Protestan dan Katolik. Persaudaraan mereka tak terganggu. “Kalau lebaran, kami biasa mengirim rantang dan saling berkunjung,” kata Afif. Kakek Afif juga masih ada hubungan keluarga dengan kakek Musa Dani, 72 tahun, sesepuh Protestan.
    “Kalau lebaran di sini, Anda susah membedakan mana muslim dan mana Kristen,” kata Musa. Di bulan Ramadhan, Musa mengaku tak terganggu. Karena salat taraweh dan tadarus tidak pakai pengeras suara berlebihan. Jam 22.00 pun sudah selesai. “Di sini ndak ada orang yang malam-malam keliling kampung nyuruh sahur,” kata Musa.
    Bila ada kematian, apapun agama yang meninggal, warga serempak melayat. Mereka membantu semampunya, dan turut mengantarkan jenazah. Saat tahlilan, warga non-muslim menunggu di luar rumah. Begitu acara usai, semua bergabung mencicipi hidangan atau sekadar bercengkerama. Begitu pula ketika penghiburan. Kerabat muslim akan sabar menunggu di luar, sampai acara ritualnya selesai.
    Tapi, damai Kampung Sawah kini terancam. Musa Dani risau dengan hadirnya musala milik pendatang baru di belakang rumahnya. Masjid kecil ini suka mengumandangkan adzan keras-keras. Musik kasidah sering diputar memekakkan kuping.
    Rahmadin Afif juga gelisah. Semenjak datangnya pastur baru asal Jerman, dua tahun lalu, umat Nasrani suka memakai pakaian adat Betawi muslim dalam acara keagamaan. Bila ada gejala keresahan seperti itu, kata Musa, biasanya justru diperingatkan oleh umat agama masing-masing.
    Sayang, bila tradisi harmoni di Kampung Sawah berubah jadi resah.

  2. God Mother said

    emang gua pikirin, gua nggak tau tuh

  3. andreyev said

    hmmm, saya pernah lihat tayangannya di tv.
    pernah suatu ketika ditake gambarnya salah satu jemaat, well, saya lihat namanya bukan nama betawi, dan dialeknya gak betawi bgt, walaupun pake baju koko dan peci.

  4. Simbara said

    Kita tidak usah heran, jangankan Suku Betawi yang di Kampung Sawah Pondok Gede, Bahkan di IRAQ sendiri masih ada suku aslinya yang menganut Kristen Orthodok contohnya TARIQ AZIS mantan Pejabatnya SADDAM HUSEIN Alm, padahal kita tau sendiri Negara Iraq adalah Negara Islam.
    Jadi Hak seseorang untuk menganut kepercayaan dan Agama menurut kepercayaan masing-masing dilindungi di Negara ini, jadi kita tidak bisa memaksakan kehendak kepada orang lain supaya mengikuti kepercayaan yang kita anut.
    Jadi kita tidak tau apa sejarahnya bisa jadi begitu, mungkin harus disurvey satu persatu keluarga disana supaya lebih jelas.
    Kira-kira bisakah kerukunan beragama di wilayah Kampung Sawah Pondok Gede, menjadi proyek percontohan di Pulau Jawa?
    Semoga Akur dan Rukun sampai selamanya, AMIN.

  5. Anzya Again 18 said

    Wah hebat jawaban mas Agus Sukarno bisa nggak di daerah lain di terapkan seperti kampung Sawah ini?

  6. ocha said

    seharusnya kita hidup seperti demikian, tenang dan saling menghargai antar umat beragama. hidup penuh cinta damai, apapun agamanya.

  7. borne said

    Tahun 1869 ya…
    1. Saat itu Indonesia masih dijajah sama Belanda
    2. Rakyat miskin banyak banget
    3. Penjajah membuat 2 topeng. 1 mengenakan topeng penjahat (penjajah). 2. Mengenakan topeng kebaikan (Missionaris).
    4. Karena sering dibagi makanan, akhirnya banyak yang murtad dan itu terjadi turun – temurun.
    Sekian analisa saya

  8. A.'. V.'. O.'. said

    mungkin dulu bekas basis portugis?
    portugis kan dlu musuhan ama belanda juga.

  9. dody said

    penasaran ingin tahu secara langsung ke kampung sawah, yang nota bene adalah penduduk dengan keragaman budaya dan agama namun menanamkan rasa toleransi. salut dan pertahankan serta perjuangankan ! agama adalah nilai nurani tertinggi dan tak ada yang memaksa dan dipaksa untuk berkeyakinan.

  10. Hibatullah Al Batawy said

    pada awalnya Nusantara hanya mengenal 3 agama yaitu hindu, budha, islam dan beberapa ainimisme dan dinamisme. namun adanya kristen karena penjajah, kalaupun ada bumiputera yang memeluk kristen wah perlu dipertanyakan apakah murni ingin mencari tuhan lagi atau sekedar menjilat kepada penjajah agar hidupnya tidak sengsara lagi. lain hal dengan islam, islam datang melalui para pedagang dan saudagar. mereka mengajarkan bagaimana cara hidup yang sebenarnya dengan perilaku pada awalnya dan pelan tapi pasti hingga kita semua tahu mayoritas penduduk nusantara beralih ke agama islam. jika saja kala itu kemiskinan tidak melanda umat islam tidak akan ada yang murtad dan mendirikan agama baru dari eropa.

  11. nyaman duniawi said

    @borne, fuck murtad.

    @al-batawy, maaf mas, islam jg baru datang setelah menaklukan kerajaan2 hindu-buddha dgn banyak peperangan di tanah jawa/jawi.
    kristen dan islam itu serupa tapi tak sama, sama2 obsesi ingin memurtadkan agama2 lainnya, sami mawon.

  12. Saya putera KH. Rahmaddin Afif, Pengasuh Pondok Pesantren Fisabilillah (YASFI) yang bersebelahan dengan dua gereja besar Katolik dan Protestan. Saya putera betawi asli asal Kp. Sawah. Memang sudah banyak wartawan yang investigasi di sini mengenai kerukunan antar umat beragama di Kp. Sawah. Sejarahnya memang unik. Dulu agama bagi orang kp. Sawah hanya kebutuhan administrasi saja. Orang dengan dengan sangat mudah menikah berbeda agama. Dari situlah perbedaa kepercayaan dalam satu rumpun agama menjadi hal yang tidak aneh di Kp. Sawah. Sejak kedatangan KH. Rahmaddin Afif yang putera daerah asli dari Mengenyam pesantren Kesadaran keberagamaan masyarakat mulai terbangun. Tetapi rasa toleransi yang ada memang tidak otomatis hilang malah semakin kuat, salah satunya disebabkan walaupun berbeda agama banyak masyarakat yang diikat oleh persaudaraan akibat dari sejarah kawin lintas agama tadi. Karena bersaudara jadi konflik antar umat beragama dapat dihindari di Kp. Sawah. bagi kami selain prinsip ketauhidan masalah-maslah sosial, ekonomi dll harus terus dikembangkan walaupu berbeda keyakinan inilah yang membuat seolah-olah Kp. Sawah menjadi miniatur Indonesia. masyarakat yang majemuk tetapi tetap menjaga integritas bermasyarakat, gitu dah kira-kira.

  13. PUTRA BEKASI said

    kalau orang yang di kampung sawah dikatakan orang betawi tulen saya kurang begitu sependapat, karena kalau ditelusuri asal muasal orang-orang tua dahulu berasal dari daerah-daerah lain misalnya : dari daerah Jogya, sumedang, banten, dll, bahkah orang asli kampung sawah murapakan garis keturunan kranggan yang masih berbau aliran kepercayaan ….

Some HTML is OK

(required)

(required, but never shared)

Komentar anda tidak akan langsung tampil.